Malaikat yang tuhan kirimkan untuk ku
Izinkan saya untuk menceritakan sedikit tentang sosok heroik di dalam hidupku
Sosok
heroik yaitu seseorang yang bersifat pahlawan, yang dimaksud bersifat pahlawan
adalah dia yang memiliki perihal sifat pahlawan, seperti keberanian,
keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan. Aku ingin menceritakan sosok
heroik di dalam hidupku. Dia adalah malaikat yang dikirim oleh tuhan untuk
menyayangiku dan mencintaiku dengan sepenuh hatinya, dan ada kata kata bahwa
“surga itu berada di bawah telapak kaki ibu” ya, sosok heroik dalam hidupku
adalah ibu.
Ibuku
dan ayahku merantau dari padang ke Jakarta, mereka merintis usaha dengan
berdagang di pasar, mereka bukanlah orang yang punya, teteapi Alhamdulillah
mereka bisa berkecukupan untuk tinggal di Jakarta, Dan aku pun dilahirkan di
Jakarta.
Aku
mempunyai seorang heroik di dalam hidupku, dia sangat berpengaruh dalam
kehidupanku, bahkan sebelum aku dilahirkan dia sudah berkorban untuk ku, dia
mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan ku, dan dia melahirkan ku penuh dengan
perjuangan, perutnya harus dirobek dengan pisau supaya aku bisa keluar dan
lahir ke dunia ini, tidak hanya dirobek, kemudian perutnya juga harus dijahit
dengan menggunakan jarum dan benang yang khusus, tak hanya diluar saja yang
dijahit, tapi juga di dalamnya. Apalagi kalau robekannya tak teratur,
jahitannya seperti ukiran. Sudah sakit saat kontraksi, sakit saat aku keluar,
ditambah sakit saat dijahit.
Gambar
diatas bukanlah mata pancing, ini benang dan jarum yang dipakai untuk menjahit
bekas robekan jalan untuk lahirnya aku pada saat dia melahirkan. Ya aku
dilahirkan dengan cara sesar, kalau kata orang “anak mahal” karena biaya untuk
melahirkan dengan cara sesar tidak sedikit. Alhamdulillah Ibu ku dapat
melahirkan ku dengan penuh perjuangannya dan aku bersyukur dilahirkan dari rahim
seorang yang lembut hatinya seperti malaikat.
Waktu
aku kecil ibuku merawatku dan dia pun tetap berjualan di pasar untuk
mendapatkan uang, sudah lelah mengurusku ditambah lagi dia juga harus
berdagang. Ibuku menjual pakaian anak – anak dan seragam sekolah di pasar,
berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 9 atau jam 10 malam. Kami (ayah, ibu dan
aku) adalah orang perantau di jakarta. Karena aku lahir, sodara ku dan nenek ku
pergi ke Jakarta untuk membantu mengurus ku. Selagi ibu ku pergi kepasar jadi
ada yang mengurus ku. Dan jika saudara dan nenek ku pulang ke kampung, ibuku
menitipkan ku kepada tetangga.
Dan
pada saat aku sudah bisa berjalan ibuku selalu mengajak ku untuk pergi
berbelanja untuk kebutuhan barang dagangan, pada saat ibuku mengajak ku, aku
malah menambah beban ibuku karena aku selalu minta dibelikan mainan pada saat
aku melihat maianan yang aku inginkan, dan kalau aku lelah aku selalu menangis
dan tentu itu menyulitkan iibuku karena dia harus menggendongku sambil
berbelanja.
Dan
pada saat aku bertumbuh lebih besar lagi, tepatnya pada saat aku memasuki
pendidikan sekolah dasar atau SD, ibuku selalu mengantarkan ku untuk pergi
kesekolah, dan pada saat aku ada pekerjaan rumah atau PR, ibuku membantu ku
untuk mengerjakan PR tersebut waktu malam hari sehabis dia berdagang di pasar.
Ibuku
selalu mengajarkan ku untuk menjadi orang baik, ya memang sudah sewajarnya
setiap orang tua mendidik anaknya. Tetapi banyak hal yang aku pelajari dari ibu
ku, dia lebih mementingkan kebahagiaan orang lain terlebih dahulu baru kemudian
untuk dirinya. Setiap ada orang yang meminta bantuan kepadanya selagi dia bisa
pasti dia bantu. Dan dia memiliki hati yang lembut dan mengajarkan ku untuk
memaafkan orang yang menyakiti diri ini agar tidak menjadi orang yang
pendendam.
Pada saat aku menjalani pendidikan ibuku tidak pernah
menuntut aku untuk menjadi juara, dan dia selalu mendukungku agar lebih
semangat jika tidak dapat juara. Mungkin bagi dia tak masalah bila aku tak
mendapatkan juara tetapi aku pun ingin memberikan yang terbaik kepada ibuku
walaupun aku tetap tidak bisa mendapatkan juara.
Ibuku selalu bertanya kepadaku apakah ada yang
menyakitimu? Tetapi aku tidak menceritakan kepada ibuku karena aku tau masalah
ibuku sudah banyak jadi aku tidak ingin menambah beban pikirannya, karena
setiap ada permasalahan di kampung baik kakak ibuku atau adik adiknya pasti
semua berita itu sampai kepada ibuku.
Ibuku memiliki 2 penyakit pada rahimnya, yaitu kista dan
miom sehingga ibuku tidak bisa memiliki anak lagi dan aku adalah anak satu
satunya, dua penyakit itu sangat menyiksa ibuku dan penyait itu bukanlah
penyakit biasa, karena bisa membahayakan dirinya. Dokter menyarankan untuk
melakukan operasi pengangkatan penyakit tersebut, tetapi ibuku tidak berani
untuk melakukan operasi, ditambah lagi banyak orang yang cerita kepada ibuku
bahwa kalau penyakit tersebut di angkat tidak menjamin untuk sembuh karena bisa
saja malah menyebar, karena itulah ibuku selalu merasakan sakit.
Dan pada saat waktunya aku memasuki waktunya untuk
menentukan pilihan untuk kuliah dimana, aku bertanya kepada ibuku apa aku boleh
untuk kuliah di Malang, awalnya ibuku mengiyakan, dimana saja asalkan aku bisa
kuliah, dan pada saat aku diterima di UIN Malang ibuku jadi khawatir, cemas dan
kepikiran karena omongan orang lain yang katanya “anak kamu kan cuma satu, kok
kuliahnya jauh banget” ibuku jadi memikirkan hal tersebut, dan karena saat ini
sedang pandemi Covid19 ibuku sangat bersyukur karena aku tidak harus pergi ke
Malang pada saat ini. Mungkin memang hal yang wajar bila ibuku cemas karena dia
hanya punya satu anak yaitu aku dan aku pergi jauh darinya.
Mungkin segitu saja yang bisa saya ceritakan tentang
Ibuku, terimakasih sudah membaca, apabila banyak kekurangan dalam penulisannya
baik pemilihan kata ataupun yang lainnya mohon dimaafkan.



Komentar
Posting Komentar